Sabtu, 29 Agustus 2015

Toko Mainan 2



Aku harus berdamai dengan
lelaki di stasiun itu.
Dan aku terjebak pada
pembicaraan yang sulit di-
akhiri. Seandainya aku bisa
dan memiliki alasan yang tepat untuk meninggalkannya. Rasanya terlalu sulit mencari alasan untuk membiarkan lelaki itu sendiri dengan pikiran dan keinginannya. Aku harus tetap duduk berhadapan dengannya sambil menikmati segelas kopi dan entah telah berapa batang kretek. Sejak seluruh pengasong stasiun di kotaku disapu bersih, aku tidak melihat wajah- wajah yang biasanya akrab menyapa. Ada penjual koran bekas, minuman dingin, rokok, tukang semir sepatu, hingga simbah yang memberi jasa pijat. Sepi. Tak berani aku berpikir; dimana mereka sekarang?
"Kita telah lama saling tahu. Sampeyan selalu duduk di samping kresek hitam itu. Aku tidak tahu apa isinya," selorohku sekedar mencairkan suasana.
"Betul. Dan aku tidak mempersoalkan itu," jawab lelaki itu.
"Meski aku sangat ingin tahu?" tanyaku lagi.
"Itu penting?" dia balik tanya. "Tidak juga."
"Penasaran?"
"Sedikit."
Aku merasa obrolanku dengan lelaki itu semakin tidak terarah. Meski begitu, aku mencoba menikmatinya. Sepertinya lelaki yang akhirnya mengaku bernama Sahman itu melakukannya.
"Kretek lagi?" Setelah kulirik bungkus rokok milik Sahman kosong.
"Jarang ada orang seperti sampeyan," Sahman meringis sambil membetot sebatang.
"Onar," celetukku.
"Nama yang sulit."
"Sekedar nama."
"Iya. Sudah lama aku membuang
makna sebuah nama," tegas Sahman. "Tidak menyangka, enak juga ngo-
brol dengan sampeyan," lanjutku. "Hanya sampeyan yang baik." Dia
mengulangi kalimatnya lagi. "Maksudnya?"
"Tahu bagaimana cara mengajak bicara orang seperti itu," Sahman melenguh kecil.
"Aku semakin tidak mengerti," selorohku.
"Tepat! Itulah yang dituduhkan banyak orang terhadapku," seru Sahman tinggi kemudian terkekeh. Entah apa maksudnya.
Tiba-tiba lonceng stasiun berbunyi. Suaranya keras seolah memecah gendang telinga. Terdengar suara kereta mendekat. Bising. Dan sangat menyiksa pendengaran.
"Itu kereta terakhir?" tanyaku iseng.
"Bukan. Tidak pernah ada kereta terakhir di stasiun ini," katanya sambil clingukan seperti tidak peduli lalulalang orang di sekitar.
"Tak pernah ada kereta terakhir?" tanyaku memperjelas.
"Yang ada hanya penumpang terakhir."

"Selera humormu lumayan. Cerdas,"
selorohku meski berniat meledek. "Sahman memang cerdas sehingga ti-
dak banyak orang yang mengerti di sini.
Mungkin hanya sampeyan," tukasnya. "Aku?"
Sahman tersenyum. Matanya memicing melihat kereta yang kembali melanjutkan perjalanan. Dia menyeruput kopinya yang telah dingin. Nyaris habis.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini?" tanya Sahman.
"Boleh. Jika sampeyan tidak keberatan."
"Justru aku senang. Lama aku menanti suasana seperti ini. Di sini," tukas Sahman sambil terkekeh.
"Di sini?"
"Bukankah sampeyan lama melihat aku selalu duduk di sini. Di pojok dekat toilet, tepat disamping warung kopi yang selalu sepi?" cerocos Sahman. Aku hanya memangguk. Sementara petugas Polsuska yang berseliweran di depanku, sama sekali tidak menghiraukan kami berdua. Menyapa pun tidak.
Agak aneh.
Aku tepis prasangka itu dan bicara dengan Sahman cukup mengasyikkan.
* * *
Pembicaraanku dengan Sahman semakin serius. Tentang apa saja. Dan kini, kami sedang berdebat persoalan copet yang selalu berkeliaran di depan stasiun. Stasiun di kotaku memang terkenal sebagai tempat transit para copet.
"Berapa jumlah mereka?" tanyaku namun tidak mengharap jawaban pasti.
"Banyak. Dan aku kenal semua," ujar Sahman enteng.
"Semua?" Aku heran.
"Tidak nama tetapi wajahnya selalu kukenal. Mereka sering melempar rokok atau uang kepadaku. Lumayan," terang Sahman.
"Asyik juga mengenal para copet itu?"
"Iya. Pada dasarnya mereka itu orang baik. Solider antar teman. Hanya nasib yang tidak pernah baik," ucap Sahman.
Aku mencoba menyelami pikiran Sahman.
"Tetapi mencopet itu kr iminal," selorohku.
"Itu kata orang pinter."
"Bagi mereka?"
"Mencopet adalah harga diri," celetuk Sahman.
"Edan! Harga Copet?" aku terkejut.
"Mencopet itu ada hubungannya dengan bakat dan bakat menentukan keahlian mencopet," jelasnya.
Jujur, aku masih bingung mengikuti cara berpikir Sahman.
"Copet yang berbakat biasanya cukup disegani dan memiliki banyak anak buah," lanjutnya lagi. Aku pun mulai mengerti ungkapan bahwa copet terkait dengan harga diri. Bukan bersoalan buruk atau baik perbuatan melainkan kesungguhan dalam melakukannya.
"Benar-benar edan!" seruku. Sementara Sahman hanya tertawa kecil. Terlihat giginya menghitam.
"Boleh tahu, Mas-nya mau kemana dan tinggal dimana?" tanyaku penasaran. Sahman semakin memperlebar senyumnya.
"Itu penting?" dia membalik pertanyaan.
"Mas Sahman ini pinter," selorohku bermaksud guyon.
Tak bisa dibendung, meledaklah tawa Sahman.
"Pinter? Aku ini pinter?" dia seolah tak percaya dengan ucapanku.
"Baru sampeyan yang bilang saya ini orang pinter. Lihat! Para petugas dan polisi itu, juga penjual teh botol di ujung sana. Mereka tidak tahu kalau ada orang pinter di sini?" Sahman terkekeh. Aku mengernyitkan dahi agak heran. Dalam hati bertanya; adakah yang salah dengan pertanyaanku?
"Sepanjang hidupku dan seingatku, baru sampeyan yang dapat mengerti pikiran saya," ungkap Sahman di sela tawa kecilnya.
"Terus selama ini?" Saya sedikit

heran. Sebentar menyulut kretek lagi.

"Hampir tidak ada yang mengajak
bicara saya. Sesekali tukang warung itu memberiku nasi bungkus. Kadang lauknya dingin dan segelas air mineral. Begitu makanan aku terima, dia langsung ngeloyor pergi," kata Sahman pelan.
"Meski mengucap terima kasih?" balasku.
"Ucapan terima kasih dari orang seperti saya, tidak ada artinya. Pernah ada penumpang kereta yang mengusirku gara-gara anaknya menangis melihatku," keluh Sahman.
Antara percaya dan tidak, aku mencoba menepis semua prasangka yang membelit pikiranku. Sahman enak diajak bicara, lumayan cerdas. Hanya pakaian sedikit lusuh, mungkin karena lama di perjalanan.
"Boleh tahu, dulu bekerja dimana?" tanyaku.
"Sejak peristiwa itu tidak ada yang memberiku pekerjaan. Aku pernah mengajar tidak tetap," celetuknya.
"Guru!" aku melonjak. Masih antara percaya dan tidak. "Peristiwa apa itu?"
"Lama sekali, tahun 1998 lalu. Orang-orang menjarah dan membakar rumahku karena istriku Cina. Katanya, mereka tidak ingin anaknya diajar oleh suami seorang Cina yang menurut mereka... ah sudahlah!" Sahman menghela napas panjang.
"Maaf," kataku.
"Suasana emosi tahun itu membuat orang tidak berpikir waras. Istriku dibantai juga anakku. Aku bingung. Aku tinggalkan sekolah dan sampai sekarang," nada suara Sahman sangat rendah. Adapat membaca batinnya sangat terpukul.
Lama kami terdiam. Tenggelam dalam lamunan masing-masing. Sebuah kereta barang melintas dengan suara memekakkan telinga. Namun tidak mengusik gelayut batin kami masingmasing.
Mas, makasih ya," tiba-tiba celoteh Sahman.
Mungkin hanya sampeyan yang mau mengerti saya. Semua orang di stasiun ini tidak ada yang peduli," ucap Sahman parau.
"Keluarga mas yang lain?" tanyaku.

"Bapak dan ibu lama meninggal. Sau-
daraku menganggap aku ini beban." "Oh."
Aku tidak dapat berkomentar banyak. Untuk mencairkan suasana aku menyodorkan sebungkus rokok kepadanya. Gerakan tangan Sahman terlihat lambat meraih batang rokok itu.
"Hidup tidak dapat begini terus, Mas," kataku mencoba menguraikan kepenatan batin Sahman. Dia memandangku cukup lama.
"Benar. Tetapi maukah sampeyan menerima titipan saya?"
Aku kaget.
"Titipan? Maksudnya?"
"Tepatnya bukan titipan tapi maukah sampeyan menyimpan pemberian saya?"
"Apa itu?" Sahman segera merogoh saku jaketnya yang kumal. Ada bungkusan kertas putih yang penuh noda. Seperti bungkusan kertas yang telah lama disimpan dalam saku.
"Simpan saja, Mas," katanya sambil menyodorkan bungkusan itu. "Jangan dibuka dulu sebelum saya pergi," lanjutnya.
Aku seperti terhipnotis dan menuruti semua perintahnya. Aku simpan bungkusan kertas itu. Sejenak kemudian, Sahman beranjak meninggalkanku.
"Aku jalan dulu, Mas. Simpan baikbaik ya," pesannya. Lantas tanpa menoleh ke arahku, Sahman tertatihtatih pergi keluar stasiun lewat pintu tikus di belakang toilet. Tanpa sadar, waktu hampir tengah malam. Rupanya aku terbius oleh suasana pertemuan — inspiratif— dengan Sahman.
Dia pergi, entah kemana. Aku bergegas keluar, juga melalui pintu tikus samping toilet. Sambil menyapa beberapa orang yang kebetulan lewat, anehnya mereka malah melengos. Awalnya aku tidak sadar, tetapi hampir empat kali, orang yang aku sapa melengos. Terakhir, aku ingin membeli rokok di kios kecil depan stasiun.
"Hush! Jam segini masih kluyuran. Tadi temannya minta rokok. Sekarang kamu!" bentaknya.
"Jancuuuk! Aku dianggap gila!" Aku mengumpat dalam hati. Rupanya keasyikanku dengan Sahman membuat mereka menyangka aku juga sinting. Aku masih belum percaya. Kudekati lelaki penjual air mineral.
"Heh! Jangan disitu. Temanku kesana!" bentaknya. Aku mengunpat untuk kesekian kalinya. Baju, celana, jaket, serta rambutku memang agak kumal tetapi aku tidak gila. Sejak itu, orang-orang di stasiun itu menganggapku gila. Dan aku bisa gila betulan kalau tetap berkeliaran di stasiun itu. Aku ngeloyor dan menghampiri keramaian di tikungan sebelah barat stasiun. Aku berlari.
Ada kecelakaan.
"Sahman!" teriakku. Lelaki itu bersimbah darah ditabrak bus antar kota.
Mati. Biarkan saja. Dia orang gila di stasiun itu," begitu seloroh orangorang. Tak ada yang menolong dan hanya berkerumun. Untunglah ada polisi lewat. Sahman digotong, entah kemana.
Di pojok, bawah tiang lisrik, aku buka bungkusan kertas pemberian Sahman.
Itu foto Sahman dan istrinya. Tanpa sadar, aku menangis. Terus menangis. Hingga beberapa petugas Satpol PP membawaku. Aku terus menangis sambil sesekali melihat foro Sahman.
"Tuh! Orang baru, Pak?" tanya salah seorang petugas kepada temannya.
"Benar kata Sahman; ini soal harga diri," kataku dalam hati.(*)

Download ebook

Berikut link downloadnya:
http://kompas.com